MENTARI ITU BERSINAR,
DAN AKAN SELALU BERSINAR
By: Ukhti Maira
Bunyi bel pertanda pulang
berdenting, sepercik kebahagiaan yang tak ternilai harganya pun
menghampiri para murid SMA NEGERI 1
BUKITTINGGI. Semua itu bagaikan air dalam kehausan ,
bagaikan makanan dalam kelaparan dan bagaikan penyejuk dalam kepanasan karena
terlepas dari cekikan maut pelajaran yang menari-nari di papan tulis. Semua
berhamburan keluar dari kelas bak sapi keluar dari sel tahanan karena diancam
akan dikurban.
Namun label kebahagiaan itu tak berlaku bagi kami, para orang- orang LCC 4 Pilar kehidupan berbangsa dan bernegara yang berjumlah hanya 15 orang dan salah
satu diantaranya adalah aku. Jadwalku setiap hari sangat padat. Sampai-sampai aku
tidak ada waktu untuk memberi makan Belti, kucing kesayanganku.Terlebih lagi,
hari Minggu, hari yang seharusnya bisa aku gunakan untuk bersantai ria dirumah
pun tergadaikan olehnya . Jadwal harianku setiap pulang sekolah adalah :
Senin :
Les fisika
Selasa :
Latihan LCC
Rabu :
Olah Raga
Kamis :
Les Matematika
Jumat :
Latihan LCC + Les Bahasa Inggris
Sabtu :
Latihan LCC
Hari-hariku dipenuhi dengan latihan LCC. Mungkin kalian
bertanya-tanya apa itu LCC, singkatnya saja, di dalam LCC kami diharuskan untuk menghafal UUD 1945,TAP
MPR,tematik UUD, dan hal-hal lain yang bersangkutan dengan peraturan
perundang-undangan negara kita tercinta,Indonesia. Hal itu kami lakukan untuk mengikuti program
pemerintah yang selalu mengadakan lomba cerdas cermat berkelanjutan setiap tahunnya. Secara teori berkata, kami
para LCC SMA N 1 BUKITTINGGI untuk
mengikuti lomba ini ke tingkat provinsi. Karena hanya sekolah kami yang
mengadakan ekstrakurikuler ini di kota kami. Pikiran kami selalu dihiasi dengan
bab, pasal, dan ayat setiap UUD. Tapi, kami tidak merasa terbebani dengan semua
itu, menghafal UUD dan TAP MPR sudah menjadi keseharian rutin kami sehari-hari.
Seperti makan dan tidur yang telah menjadi kebutuhan kami setiap hari.
Namun seiring waktu berjalan, sepertinya kali ini waktu tak berpihak pada kami. Siang
itu,sebuah surat yang
menggemparkan sekolahku pun datang. Tak terlintas dibenakku hal itu akan
terjadi. Tapi realita tak bisa dipungkiri.Mentari
seperti tenggelam dan tak mau bersinar lagi. Saat itu aku berharap segera terjaga dari mimpi yang mengerikan ini.
Tapi,setelah aku mencubit tangan kuat-kuat,rasa sakitpun menjalar.
Bukan sakit karena kena cubit, tapi karena aku harus menghadapi kenyataan bahwa
semua ini bukan mimpi buruk, semua ini nyata.
Entah apa yang harus kami lakukan
setelah ini. Kau tau apa yang telah terjadi
kawan? Kakak seniorku di LCC menyampaikan kepada kami semua bahwa
TAHUN INI SEKOLAH KAMI TIDAK DIBERI KESEMPATAN LAGI UNTUK MEWAKILI KOTA
MENGIKUTI LOMBA CERDAS CERMAT 4 PILAR
KEHIDUPAN BERBANGSA DAN BERNEGARA KE TINGKAT PROVINSI.Giliran itu diberikan kepada sekolah lain. Saat itu juga kami yang tengah
berada di lapangan pun ternganga, tak tau harus berbuat apa. Tiba – tiba,
tubuhku mendingin, tanpa kusadari air
mataku pun meronta ingin menampakkan wujudnya. Semua tak bisa ku elakkan.
Semua orang sangat kecewa, sekolahku pun dihantui dengan tangisan kami para
anggota LCC. Seiring
semuanya bersedih, alam pun sepertinya ikut bersedih.
Tetesan air langit pun membasahi sekolah kami. Aku
merasa semua pengorbananku sia-sia. Mulai dari waktu,pikiran,tenaga, pelajaran,
sampai teman.
Ku lihat arloji ku, ternyata jarum yang agak pendek sudah berada di
angka empat. Tanpa mengucapkan apa apa, aku beranjak dari dari lapangan menuju
tempat angkot yang biasa kutumpangi untuk pulang. Sepanjang perjalanan aku
masih memikirkan hal yang baru saja terjadi. Semua ini terasa bak Dementor
telah merenggut semua kebahagiaanku tanpa bisa ku elakkan. Patronoumku pun
seperti tidak berfungsi. Beberapa saat kemudian aku pun sadar, aku tidak
berada di Hogwarts.
“Adek adek semua, besok pagi harap berkumpul di balkon, karena jam 7
pagi kita akan menghadap ke kepala sekolah untuk membicarakan masalah kemarin,
jadi jangan ada yang telat ya!” bunyi pesan singkat dari kakak seniorku. Jam di meja belajarku
masih menunjukkan pukul 20.15, tetapi setelah membaca sms dari kakak
seniorku tadi, rasanya tak sabar aku menunggu datangnya pagi.
Tepat pukul 07.00 waktu Bukittinggi, aku sudah berdiri di balkon
lantai dua sekolahku. Tak lama setelah itu, kakak seniorku pun datang dan
dengan logat minangnya berkata “Capeklah dek. Semuanya ikut kakak ke
ruang kepala sekolah”. Aku dan temanku yang lain berjalan mengikuti kakak
seniorku dari belakang. Sampai di depan ruang kepala sekolah, kami pun mendapati
Bapak Kepsek berjalan keluar dari ruangannya sambil berkata “Ada apa ini rame-rame
kesini? Ada yang bisa saya bantu?”. “Ada yang ingin kami bicarakan Pak” kata
kakak seniorku. “Silahkan masuk, tapi jangan semuanya. Tiga orang saja cukup”.
Dua kakak senior dan satu orang temanku pun masuk ke ruang kepala sekolah. Kami
para anggota LCC yang lain menunggu dengan cemas di luar. Beberapa menit
kemudian, mereka yang baru saja masukpun keluar dari ruangan kepala sekolah.
Kami segera mengerubuti mereka untuk menanyakan apa saja yang mereka bincangkan
di dalam sana. Singkatnya, bapak kepala sekolah hanya mengatakan akan
menanyakan proses lebih lanjutnya ke Dinas Pendidikan kota. Tak ada kepastian
yang jelas. Tapi setidaknya kami sudah bisa bernafas lega, karena kepala
sekolah mau bercampur tangan atas masalah kami ini.
Tetapi, usaha kami tak berhenti sampai disitu. Aku dan sahabat
dekatku, yang juga anggota LCC
teringat dengan teman dekat,
seperilaku dan seperjuangan kami sejak sekolah di jenjang menengah
pertama dulu. Sebut
saja namanya Rahman.Kami bertiga memang berteman dekat sekali. Kebetulan
ayahnya bekerja sebagai abdi negara di Instansi pemerintah yang bergerak di
sektor pendidikan di kota ini. Kami meminta bantuan kepada beliau
untuk memberikan penjelasan kenapa
sekolah kami tidak bisa lagi mengikuti lomba cerdas cermat ini. Lomba yang
menjadi mimpiku sejak menyematkan lambang SMA N 1 BUKITTINGGI di baju
seragamku. Ternyata alasannya adalah, karena kami sudah tiga kali menjadi
utusan kota ini dan masih tidak berhasil melaju ke tingkat Nasional.Jadi
panitia lomba ini ingin memberikan kesempatan kepada
sekolah lain. Bapak itu pun juga berkata akan melakukan apapun yang beliau
bisa. Senyuman pun menghampiri kami. Dalam hati kami berharap semoga
keajaiban itu ada dan semoga harapan kami terkabulkan. Meskipun kemungkinannya
seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Tapi kami percaya bahwa tidak ada
yang tidak mungkin di dunia ini.
Beberapa hari setelah realita
terburuk yang telah menimpaku itu berlalu, kesibukan kamipun berjalan normal
seperti biasa kembali. Harapan boleh redup, tetapi
semangat kami tidak pernah padam. Latihan LCC masih tetap berjalan seperti
hari-hari sebelumnya. Bunyi pekikan bel
tanda kami masih berlatih berebut
menjawab soal-soal seputar UUD dan TAP MPR masih terdengar di setiap
Selasa,Kamis, Jumat, dan Sabtu pada jam sepulang sekolah.Guru pembina kami juga
masih tidak pernah absen untuk mengawasi latihan kami. Mentari itu bersinar,dan
akan selalu bersinar. Tetapi kali ini masih diikuti oleh awan gelap yang
menutupinya karena rasa cemburu. Semua kemungkinan itu seperti masih mengambang di udara. Tidak tau apa kepastian
yang akan terjadi.
Seminggu setelah itu,berita lain datang lagi ke sekolah kami. Tetapi
untungnya bukan berita buruk seperti yang kami dapatkan dua minggu lalu. Berita
itu berisi tentang keputusan panitian lomba LCC UUD dan TAP MPR akan mengadakan seleksi antara sekolah kami
dengan sekolah yang telah dipilihnya sebelumnya, untuk mendapatkan siapa yang
terbaik. Seleksi diselenggarakan dengan menandingkan kami dengan sekolah lain
itu. Siapa yang mendapat skor tertinggi dan permainan terbaik itulah yang akan berhak mewakili Bukittinggi menuju provinsi. Mendengar berita itu, kami semua bersorak
senang bukan kepalang. Akhirnya,terang pun datang, dan awan gelap berlarian karena takut akan ditiup
oleh angin dari barat. Keputusan yang selama in kami nantikan akhirnya datang
juga. Tergambar di wajah-wajah para anggota LCC semangat yang dulu hampir padam kembali berkobar. Memang, perjalanan kami masih
panjang,kami masih harus menjalani seleksi,dan jika kami berhasil, setelah itu
kami pun harus bersaing mengalahkan para
utusan dari setiap kota di provinsi. Tapi setidaknya perjalanan setelah ini
mudah-mudahan bisa kami hadapi dengan usaha dan kerja keras. Tekad kami adalah
membawa nama SMA N I BUKITTINGGI sebagai pemenang di ajang nasional nantinya.
Amin.
Mungkin ketika teman-teman membaca bagian ini, cerpen ini akan
segera berakhir. Tetapi tidak untuk kami para LCC, ini adalah awal dari
perjuangan kami. Mentari itu bersinar, dan akan selalu bersinar
***

